Nicko Bolhuy, Teknisi Manajemen Konservasi Air dan Teknologi Terapan

Foto saya
Benjina, Kepulauan Aru, Maluku, Indonesia
Teknisi Manajemen Konservasi Air dan Teknologi Terapan dalam pengembangan masyarakat.

“Air hujan turun setiap tahun. Tapi berapa banyak yang benar-benar kita simpan?”


“Air hujan turun setiap tahun. Tapi berapa banyak yang benar-benar kita simpan?”

Setiap musim hujan, air turun dari langit dalam jumlah yang besar. Namun sering kali air itu langsung mengalir ke tanah, sungai, dan laut, lalu kita kembali mengalami kekurangan air ketika musim kemarau tiba.

Di sinilah kita perlu belajar bahwa air bukan hanya untuk digunakan, tetapi juga harus dikelola.

Kita dapat memulai dari hal sederhana: menangkap air hujan dari atap rumah, menyaringnya, menyimpannya dalam tandon, dan menggunakannya secara bijaksana.

Air yang tersimpan dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan sesuai kualitas dan pengolahannya—mulai dari kebutuhan rumah tangga, kebun, ternak, hingga mendukung kehidupan masyarakat di daerah yang sulit mendapatkan sumber air.

Kemandirian air bukan berarti kita tidak membutuhkan alam. Justru sebaliknya, kita belajar menghargai air yang diberikan alam dan mengelolanya dengan bijaksana.

Kita belajar menghitung kebutuhan air.
Kita belajar menentukan kapasitas tandon.
Kita belajar membuat sistem panen air hujan.
Kita belajar menggunakan teknologi tepat guna seperti tandon ferrocement, pompa hydram, dan sistem penyaringan air.

Dengan pengetahuan yang sederhana dan teknologi yang sesuai dengan kondisi lokal, sebuah keluarga dan sebuah desa dapat mulai membangun ketahanan airnya sendiri.

Karena ketika kita mampu menangkap dan menyimpan air pada saat tersedia, kita sedang mempersiapkan kehidupan untuk menghadapi saat air menjadi terbatas.

Jangan hanya menunggu hujan.
Belajarlah mengelola hujan.
Jangan hanya menggunakan air.
Belajarlah menjaga air.

๐Ÿ’ง Manajemen Konservasi Air & Teknologi Tepat Guna
Access to Water Is Access to Life.

RAB Tandon Ferrocement Kapasitas 5000 Liter


RAB untuk Tandon Bulat ร˜ 190cm (dalam) x Tinggi 150cm. Kapasitas air bersih sekitar 4.250 Liter.

Aku hitung tebal standar tahan gempa & anti bocor:
Lantai: 12cm
Dinding: 12cm (double wiremesh)
Tutup: 8cm + lubang manhole 60x60cm

1. VOLUME BETON
Total beton cor butuh ± 2.0 m³ (sudah +10% terbuang)
Lantai: 0,43 m³
Dinding: 1,14 m³
Tutup: 0,28 m³

2. KEBUTUHAN MATERIAL UTAMA
| Material | Kebutuhan | Keterangan |
| --- | --- | --- |
| Semen 50kg | 22 sak | 14 sak untuk cor K-225, 8 sak untuk plester + acian |
| Pasir Cor | 1,2 m³ | Pasir kasar / Mundu |
| Kerikil / Split 1-2 | 1,7 m³ |  |
| Pasir Halus | 0,7 m³ | Untuk plester |
| Wiremesh M8 - 2,1x5,4m | 4 lembar | 1 lantai (double), 2 dinding (double), 1 tutup |
| Kawat Bendrat | 5 kg |  |
| Triplek 9mm | 6 lembar | Untuk mal luar-dalam, bisa pakai 2x |
| Kayu Kaso 4x6 | 20 batang @4m | Perkuatan mal bulat |
| Minyak Bekisting | 2 liter 

3. FINISHING & PIPA
| Material | Kebutuhan |
| --- | --- |
| Semen Waterproof / MU Acian Putih + Damdex | 2 sak 40kg + 2 botol Damdex 1L |
| Cat Waterproof Aquaproof / No Drop | 1 pail 20kg biru muda (luar-dalam) |
| Pipa PVC 3/4" | 4 m |
| Kran Kuningan 3/4" | 2 buah (outlet & kuras) |
| Pelampung Otomatis Toren 3/4" | 1 buah |
| Socket Drat Luar + Water Mur | 3 set |

4. ESTIMASI BIAYA KASAR - KUPANG / SUMBA TIMUR 2026

Semen 22 sak x Rp 85.000 = Rp 1.870.000
Wiremesh M8 4 lbr x Rp 650.000 = Rp 2.600.000
Pasir + Kerikil 3,6 m³ = Rp 1.800.000
Triplek + Kaso + Paku = Rp 1.500.000
Waterproof + Cat = Rp 900.000
Pipa + Kran + Pelampung = Rp 450.000
Total Material ± Rp 9,1 Juta (belum ongkos tukang 2 orang x 7 hari)

Tips biar tidak bocor:
Saat cor dinding, pakai vibrator / tusuk-tusuk besi biar tidak keropos.
Plester langsung + acian waterproof selagi dinding masih lembab (hari ke-3).
Isi air penuh di hari ke-7 untuk tes bocor, biarkan 2 hari.

Jejak Pembuatan Tandon ferrocement

Awal pengerjaan tandon ferrocement di Tabanan-Bali. Pengenalan awal ini membawah saya untuk terus berproses dalam pengerjaan ke beberapa pulau dan ke kampung-kampung yang ada di pedalaman Indonesia. Dini saya akan mencoba membuat daftar yang sudah pernah di kerjakan. Daftar Tabanan 2

Apa Itu Manajemen Konservasi Air


๐ŸŒฟ Apa itu Manajemen Konservasi Air?

Manajemen konservasi air adalah proses merencanakan, mengelola, melindungi, menyimpan, menggunakan, dan menjaga keberlanjutan sumber daya air secara tepat guna agar kebutuhan manusia dan lingkungan dapat terpenuhi dalam jangka panjang.

Sederhananya:

“Air jangan hanya dicari ketika sudah kekurangan. Air harus direncanakan, ditangkap, disimpan, digunakan, dan dilestarikan sebelum menjadi masalah.”

๐Ÿ’ง 10 cara berpikir dalam Manajemen Konservasi Air

  1. Kenali sumber air
    Dari mana air berasal? Hujan, mata air, sungai, air tanah, atau sumber lainnya?

  2. Tangkap air
    Jangan biarkan air hujan langsung terbuang ke laut. Gunakan panen air hujan.

  3. Simpan air
    Bangun tempat penyimpanan seperti tandon ferrocement, embung, kolam, atau tangki.

  4. Distribusikan air
    Air harus dapat dipindahkan dari sumber ke tempat kebutuhan dengan teknologi yang sesuai.

  5. Gunakan teknologi tepat guna
    Contohnya pompa hydram yang dapat bekerja tanpa listrik, serta Bio Sand Filter untuk pengolahan air.

  6. Gunakan air secara efisien
    Air minum, memasak, mandi, pertanian, dan kebutuhan lainnya perlu dikelola sesuai prioritas.

  7. Jaga kualitas air
    Air yang banyak tetapi tercemar tetap menjadi masalah. Karena itu sumber air harus dilindungi.

  8. Jaga daerah tangkapan air
    Hutan, tanah, rawa, dan vegetasi berperan penting dalam menyimpan dan mengatur air.

  9. Libatkan masyarakat
    Konservasi air tidak akan berkelanjutan jika hanya bergantung pada proyek atau bantuan dari luar.

  10. Bangun sistem yang berkelanjutan
    Masyarakat harus mampu membuat, menggunakan, memperbaiki, dan mengelola sendiri teknologi air tersebut.

๐Ÿ”„ Kalau dibuat menjadi satu siklus:

HUJAN → TANGKAP → SIMPAN → SARING → DISTRIBUSIKAN → GUNAKAN → DAURKAN → LINDUNGI SUMBER AIR → KEMBALI KE SIKLUS

Jadi, tandon ferrocement hanyalah salah satu bagian dari Manajemen Konservasi Air. Demikian juga pompa hydram atau Bio Sand Filter. Yang lebih besar adalah sistem pengelolaan air dari sumber sampai ke pengguna dan kembali menjaga sumbernya.

๐ŸŒฑ Filosofi yang sangat kuat

Untuk konsep Access Life, saya melihat Manajemen Konservasi Air dapat dirumuskan menjadi:

ACCESS TO WATER IS ACCESS TO LIFE
Akses kepada air adalah akses kepada kehidupan.

Dan pendekatan praktisnya:

“Tangkap air ketika ada, simpan ketika berlebih, gunakan dengan bijaksana ketika dibutuhkan, dan lindungi sumbernya untuk masa depan.”

Apa Itu Manajemen Konservasi Air dan Teknologi Tepat Guna

Manajemen Konservasi Air dan Teknologi Tepat Guna adalah pendekatan untuk mengelola, menyimpan, menghemat, menjaga kualitas, dan memanfaatkan air secara berkelanjutan dengan menggunakan teknologi yang sederhana, murah, mudah dibuat, mudah diperbaiki, dan sesuai dengan kondisi masyarakat setempat.

1. Manajemen Konservasi Air ๐Ÿ’ง

Fokusnya adalah bagaimana air tidak terbuang dan tetap tersedia, terutama pada musim kemarau.

Contohnya:

  • ๐ŸŒง️ Panen air hujan dari atap rumah.
  • ๐Ÿ›ข️ Tandon ferrocement untuk menyimpan air.
  • ๐Ÿ’ฆ Perlindungan mata air dan daerah tangkapan air.
  • ๐Ÿšฐ Pengelolaan dan penghematan penggunaan air.
  • ๐Ÿงน Menjaga kebersihan sumber dan tempat penyimpanan air.
  • ๐ŸŒฑ Konservasi tanah dan lingkungan agar air hujan dapat meresap ke tanah.

2. Teknologi Tepat Guna ๐Ÿ”ง

Teknologi tepat guna adalah teknologi yang dibuat berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat dan kondisi lingkungan setempat.

Contohnya:

  • Tandon ferrocement → menyimpan air dengan bahan yang relatif sederhana.
  • Pompa hydram → memompa air tanpa listrik dengan memanfaatkan energi aliran air.
  • Bio Sand Filter → membantu menyediakan air yang lebih bersih.
  • Sistem panen air hujan → memanfaatkan air hujan sebagai sumber air.
  • Saluran gravitasi dan sistem distribusi air sederhana.
  • Peralatan lokal seperti bambu atau material yang mudah diperoleh.

3. Tujuan utamanya

Secara sederhana:

Air hujan → ditangkap → disimpan → dijaga kualitasnya → digunakan secara hemat → tersedia saat dibutuhkan.

Jadi, konsep ini bukan hanya tentang membuat tandon atau memasang pompa, tetapi tentang membangun sistem pengelolaan air dari sumber sampai pemanfaatannya.

4. Contoh penerapan di desa

Misalnya sebuah desa mengalami kekurangan air pada musim kemarau:

Atap rumah → talang → saringan awal → tandon ferrocement → filter → keran → masyarakat

Kemudian jika terdapat sumber air di tempat yang lebih rendah, dapat digunakan pompa hydram untuk menaikkan air ke tandon tanpa membutuhkan listrik.

Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mendapatkan fasilitas air, tetapi juga memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengelolanya secara mandiri.

Inti pengertiannya

Manajemen Konservasi Air dan Teknologi Tepat Guna adalah upaya mengelola sumber daya air secara bijaksana dan berkelanjutan dengan memanfaatkan teknologi sederhana, ekonomis, ramah lingkungan, serta sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat.


nickosbolhuy@gmail.com

WA : 082334238876

FB : Nikodemus Bolhuy